Dua orang yang baik, tapi, mengapa perkawinan tidak berakhir bahagia

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikit pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.

Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan-lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah.

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya...
Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya,

Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.

cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu....dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah!ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.
Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku,
Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar.

Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.

Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota .

Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.
Posted by Monasku, Thursday, January 08, 2009 11:39 AM | 0 comments |

MENJUAL KEPERAWANAN

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang
petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap
kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas
ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di
lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus
dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya
tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak
ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri.
Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe
wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak
belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia
remaja yang tengah beranjak dewasa.

Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk
mendekati meja wanita itu dan bertanya:

'' Maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang?

'' Tidak! '' Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

'' Lantas untuk apa anda duduk disini?

'' Apakah tidak boleh? '' Wanita itu mulai memandang ke arah sang
petugas satpam..

'' Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang
yang ingin menikmati layanan kami.''

'' Maksud, bapak?

'' Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini ''

'' Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang.

Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk disini untuk sesuatu yang akan
saya jual '' Kata wanita itu dengan suara lambat.

'' Jual? Apakah anda menjual sesuatu disini? ''

Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang
yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya
membawa brosur.

'' Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk
berjualan. Mohon mengerti. ''

'' Saya ingin menjual diri saya, '' Kata wanita itu dengan tegas
sambil menatap dalam dalam kearah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

'' Mari ikut saya, '' Kata petugas satpam itu memberikan isyarat
dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil
senyum diwajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah
mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat korsi yang hanya untuk satu orang. Di
sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi
pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di
tempat inilah deal berlangsung.

'' Apakah anda serius? ''

'' Saya serius '' Jawab wanita itu tegas.

'' Berapa tarif yang anda minta? ''

'' Setinggi tingginya..' '

'' Mengapa? Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

'' Saya masih perawan ''

'' Perawan? '' Sekarang petugas satpam itu benar benar terperanjat.
Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih
hari ini.. Pikirnya

'' Bagaimana saya tahu anda masih perawan?''

'' Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan
mana bukan.. Ya kan...''

'' Kalau tidak terbukti?

'' Tidak usah bayar ...''

'' Baiklah ...'' Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik
ke kiri dan ke kanan.

'' Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli
keperawanan anda. ''

'' Cobalah. ''

'' Berapa tarif yang diminta? ''

'' Setinggi tingginya. ''

'' Berapa? ''

'' Setinggi tingginya. Saya tidak tahu berapa? ''

'' Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. ''

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

'' Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana? ''

'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''

'' Ini termasuk yang tertinggi, '' Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.

'' Saya ingin yang lebih tinggi...''

'' Baiklah. Tunggu disini ...'' Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

'' Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? ''

'' Tidak adakah yang lebih tinggi? ''

'' Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila
anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau
andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan
mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan
menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya
anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi,
anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan
mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita
sama sama butuh ... ''

'' Saya ingin tawaran tertinggi ... '' Jawab wanita itu, tanpa peduli
dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

'' Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya.

Tapi sebaiknya anda ikut saya.

Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit.

Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli. '' Kata
petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap
mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift.

Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit
agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

'' Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? " Kata petugas
satpam itu dengan sopan.

Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama kesekujur tubuh wanita itu ...

'' Berapa? '' Tanya pria itu kepada Wanita itu.

'' Setinggi tingginya '' Jawab wanita itu dengan tegas.

'' Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? '' Kata pria itu
kepada sang petugas satpam.

'' Rp.. 6 juta, tuan ''

'' Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. ''

Wanita itu terdiam.

Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada
jawaban bagus dari wanita itu.

'' Bagaimana? '' tanya pria itu.

''Saya ingin lebih tinggi lagi ...'' Kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

'' Bawa pergi wanita ini. '' Kata pria itu kepada petugas satpam
sambil menutup pintu kamar dengan keras.

'' Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin
menjual? ''

'' Tentu! ''

'' Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu ... ''

'' Saya minta yang lebih tinggi lagi ...''

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia
pun tak ingin kesempatan ini hilang.

Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

'' Kalau begitu, kamu tunggu ditempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba
mencari penawar yang lainnya. ''

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu
pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita
melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun,
tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara
lewat telepon genggamnya.

'' Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Ripiah.

Apakah itu tidak cukup? Terdengar suara pria itu berbicara.

Wajah pria itu nampak masam seketika

'' Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu.

Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?! ''

Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita.

Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan
diwajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: '' Pak,
apakah anda butuh wanita ... ??? ''

Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian
memalingkan wajahnya.

'' Ada wanita yang duduk disana, '' Petugas satpam itu menujuk kearah
wanita tadi.

Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
'' Dia masih perawan..''

Pria itu mendekati petugas satpam itu.

Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. '' Benarkah itu? ''

'' Benar, pak. ''

'' Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu ... ''

'' Dengan senang hati. Tapi, pak ...Wanita itu minta harga setinggi tingginya.''

'' Saya tidak peduli ... '' Pria itu menjawab dengan tegas.


Pria itu menyalami hangat wanita itu.

'' Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang
seriuslah ....'' Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

'' Mari kita bicara dikamar saja.'' Kata pria itu sambil menyisipkan
uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.

Di dalam kamar ...

'' Beritahu berapa harga yang kamu minta? ''

'' Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit ''

'' Maksud kamu? ''

'' Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk
kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterimakasih .... ''

'' Hanya itu ...''

'' Ya ...! ''

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk
menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula
menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung
gagah berani ditengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini
sadar, bahwa dihadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai.
Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan
untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan
gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada
kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan
selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara
terhormat.

'' Siapa nama kamu? ''

'' Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar ... ''
Kata wanita itu

'' Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu
yang pantas ditawar. ''

''Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! ''

'' Ada ! Kata pria itu seketika.

'' Sebutkan! ''

'' Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu.

Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu
kerumah sakit.

Dan sekarang pulanglah ... '' Kata pria itu sambil menyerahkan uang
dari dalam tas kerjanya.

'' Saya tidak mengerti ...''

'' Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya.

Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterimakasih.

Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta.

Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terimakasih dari seorang wanita
yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya.

Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar ...''

'' Dan, apakah bapak ikhlas...? ''

'' Apakah uang itu kurang? ''

'' Lebih dari cukup, pak ... ''

'' Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? ''

'' Silahkan ...''

'' Mengapa kamu begitu beraninya ... ''

'' Siapa bilang saya berani.

Saya takut pak ...

Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa
ibu saya kerumah sakit dan semuanya gagal.

Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu
bukanlah karena dorongan nafsu.

Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` ...

Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan ... ''

'' Keyakinan apa? ''

'' Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Allah
lah yang akan menjaga kehormatan kita ... '' Wanita itu kemudian
melangkah keluar kamar.

Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:

'' Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ... ''

'' Kesadaran... ''

. . .

Di sebuah rumah dipemukiman kumuh.

Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

'' Kamu sudah pulang, nak ''

'' Ya, bu ... ''

'' Kemana saja kamu, nak ... ???''

'' Menjual sesuatu, bu ... ''

'' Apa yang kamu jual?'' Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi
wanita muda itu hanya tersenyum ...

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di
tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada
lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah
keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Allah selalu memberi tanpa
pamrih, tanpa perhitungan ...

'' Kini saatnya ibu untuk berobat ... ''

Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: '' Allah telah
membeli yang saya jual... ''.

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan
rumahnya. Dimasukannya ibunya kedalam taksi dengan hati-hati dan
berkata kepada supir taksi: '' Antar kami kerumah sakit ...''
Posted by Monasku, Wednesday, December 10, 2008 6:11 PM | 0 comments |

Puisi sederhana Jomblo

Malamku sepi........
Bertaburan wangi bunga depan mata ..
Coba kusingkap panas dinding diri..
Akankah indraku sanggup cium pesona?

Mengapa kuterdiam......?
Ketika hati berbicara cinta..
Untuk apa cinta kubenam
Jika akhirnya rasa terlipat kurenda...

Ganja Kering,2 oktober 2008
Posted by Monasku, Wednesday, November 26, 2008 10:00 PM | 0 comments |

Saya Belajar

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk
membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja
untuk menghancurkannya...

Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali...

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik...

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh,
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan
perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya...

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya...dan untuk itu saya harus memaafkannya...

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri...
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus...

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya....

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah sahabat,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri...

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya...

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati...

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis...

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi
justru sering diambil segera dari kehidupan saya....


Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya|
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk
membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja
untuk menghancurkannya...

Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali...

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik...

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh,
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan
perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya...

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya...dan untuk itu saya harus memaafkannya...

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri...
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus...

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya....

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah sahabat,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri...

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya...

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati...

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis...

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi
justru sering diambil segera dari kehidupan saya...
Posted by Monasku, 9:55 PM | 0 comments |

Cinta & Sayang

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

Saat kau menyukai seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku menciummu?"
Saat kau menyayangi seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku memelukmu?"
Saat kau mencintai seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya...

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata "Sudahlah, jgn menangis."
SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata, "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama."

SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,"Ia sangat cantik dan menawan."
SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.
CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,"Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.."

Pada saat orang yang kau suka menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
Pada saat orang yang kau sayang menyakitimu, engkau akan menangis untuknya.
Pada saat orang yang kau cintai menyakitimu, kau akan berkata,"Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan."

Pada saat kau suka padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.
Pada saat kau sayang padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.
Pada saat kau cinta padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus...

SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.
SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.

SUKA adalah hal yang menuntut.
SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
CINTA adalah hal yang memberi dengan rela
Posted by Monasku, Thursday, November 13, 2008 7:34 PM | 0 comments |

Cerita si tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang," Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada,
tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!"-kata si konsumen menyetujui." Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu
banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!!
Posted by Monasku, 7:27 PM | 0 comments |

The Right One

My grandma and grandpa celebrated their fifty-fifth anniversary surrounded by their children, grandchildren and a lifetime collection of friends. I thought that Grandma had forgotten anything she may have known about being single. I was wrong.

As she was getting ready for the party, arranging her long white hair in a French twist, my grandma commented, "I'm always surprised when I look in the mirror and see all these wrinkles." Holding her hand over her heart, she added, "In here, I'm still a young woman." She applied bright red lipstick.

I sat on the bed watching her primp. "So, what is the secret of a long, happy marriage?"

She sprayed floral cologne on her wrists. "Don't settle."

I must have looked puzzled.

"Don't settle. That is all you need to know." She tucked a stray wisp of hair in place.

I twisted my own hair around my fingers hoping to coax it into a curl. Turning the page of Grandma's photo album, I saw an out-of-focus photo of nondescript steps. "Where's this?"

"That is where your grandpa proposed to me; we had known each other six weeks. When he first saw me, he told his cousin that he had seen the girl he was going to marry. That was before we had even spoken one word to each other."

"Six weeks?" My images of Edwardian modesty shattered. My grandma was born in 1890. Opposite the picture of the steps was a sepia studio portrait of a ringleted young woman with limpid eyes. That was Grandma, in the high-collared lace blouse, her mouth primly shut, her huge eyes staring off into the unknown future. "I thought people used to have long courtships."

"I had a long courtship, it just wasn't with your grandfather." She giggled. Grandma's eyes had not changed since that young girl held her rigid pose for the photographer.

My grandma was one of thirteen children. Her parents had a large house that Grandma described as a mansion. They were an unusual family for the turn of the century. One of Grandma's sisters was a bookkeeper. Her sister Ceil was an attorney; a plaque on a building in McKeesport, Pennsylvania, marks the site of her office.

Grandma always wanted to be a wife and mother. She was twenty-five when she married my grandfather.

"Grandma, I always thought things were different back then. I thought maybe Grandpa came over and sat around the den or parlor or whatever for years before he proposed."

Grandma smiled and moved closer, just like one of my friends settling in for a good gossip. "I kept company with another man for six years. He kept pushing me to marry him. I kept saying, 'I don't want to leave my mother,' or 'I'm not ready.' I said this, I said that. The truth was, there was no spark. He was nice but...he just wasn't the one."

I leaned forward. The years had fallen off Grandma's voice. Her speech sounded young, expectant.

"Everyone kept saying, 'Annie, so when are we dancing at your wedding?' People talked--people have always liked to talk. There was talk I'd end up an old maid. We took that kind of thing seriously. I didn't say anything. I kept going out with him, but something stopped me from getting engaged. He wasn't the one. My mother was worried about me. I wasn't worried. I knew that there was someone, somewhere. I wasn't ready to settle."

She squeezed my hand.

"So, then I met your grandfather. He saw me out walking with my friends and found--who knows how--that he knew my cousin. In a few days, he managed to come calling with my cousin. I never saw the other man again.

"Six weeks later your grandpa proposed." She started laughing until tears gathered in her eyes. "He said he needed a wife to manage his money. He didn't have two dimes to rub together."

"Did you know that before you married him?" I asked, thinking of the tales I had heard about her well-off parents.

"Of course I knew that. I also knew he was the one I had waited for," she said. She looked at our faces in the ornately framed mirror. In my face she saw the young woman she had been; in her face I saw my future. I kissed Grandma's cheek, knowing I would never settle. I would wait for the right one, and now I was certain I would know him when I saw him.
Posted by Monasku, 7:26 PM | 0 comments |

You Become What You Want to Be

Growing up the fifth of six children was a challenge, the struggle for placement and acceptance being the usual issues. Personally, I never felt I needed to be heard or seen. Taught to be seen and not heard from the time we were born, when we broke that rule we were punished severely.

I had several strikes against me growing up. I had very little self-esteem, if any. Our mother had a hair-trigger temper and we constantly had to avoid her wrath, learning to fear and not thrive as children. Even when we weren't in trouble, we felt like we had done something wrong. Talking about love or sex in our house was totally taboo. Our home lacked warmth and my fears of incurring my mother's anger outweighed my desire to talk to her about very important things that should have been dealt with as a child, not as an adult.

My childhood was short. I always say I graduated from the school of hard knocks, and meant it. I was molested between the ages of ten and thirteen by four different family friends and a family member. I was an alcoholic by the time I was fourteen and a frequent user of drugs when I wasn't drunk.

I was not popular in school, my grades were not great and the only thing I excelled at was spelling, which would not carry me far. My mom planted the seeds and watered them daily, telling me I wasn't smart enough or good enough to reach the goals I set for myself in life. I wanted to be a teacher, a stewardess or a nurse. At one time, I had many, many dreams. Not one of them was something my mother encouraged or thought I could accomplish.

I made mistakes, too many to mention and some so humiliating that I cringe inside today as I recall them. The drugs, the alcohol and the self-destructive path I was on were not things I was proud of. I wanted so desperately to change, but I had no idea how. I just wasn't good enough to succeed at anything. The only positive thing left was my desire to try.

I started dating a guy when I was thirteen, falling hopelessly in love with him. True to form, my mother told me I would never do better and on my sixteenth birthday we were engaged. We moved in together after high school and married at nineteen. We had two beautiful kids together, and that was the turning point in my life. Being a good mother was something I could accomplish.
Posted by Monasku, 7:24 PM | 0 comments |

Hidup Adalah Pilihan

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit
yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku
dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya
tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam
musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun
pagi di pucuk-pucuk daunku."

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah
ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana
sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan
tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan
terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan
pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk
mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai
semuanya aman."

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
Posted by Monasku, 7:05 PM | 0 comments |

Life Is a Gift

Today before you say an unkind word - Think of someone who can't speak.

Before you complain about the taste of your food - Think of someone who has nothing to eat.

Before you complain about your husband or wife - Think of someone who's crying out to GOD for a companion.

Today before you complain about life - Think of someone who went too early to heaven.

Before you complain about your children - Think of someone who desires children but they're barren.

Before you argue about your dirty house someone didn't clean or sweep - Think of the people who are living in the streets.

Before whining about the distance you drive Think of someone who walks the same distance with their feet.

And when you are tired and complain about your job - Think of the unemployed, the disabled, and those who wish they had your job.

But before you think of pointing the finger or condemning another - Remember that not one of us is without sin.

And when depressing thoughts seem to get you down - Put a smile on your face and think: you're alive and still around.
Posted by Monasku, Wednesday, November 12, 2008 6:59 PM | 0 comments |

Six words of wisdom

Standing for what you believe in, regardless of the odds against you,
and the pressure that tears at your resistance, means COURAGE

Keeping a smile on your face, when inside you feel like dying,
for the sake of supporting others, means STRENGTH

Stopping at nothing, and doing what in your heart you know is right,
to make another's life a little more bearable, without uttering a single complaint,
means COMPASSION

Helping a friend in need, no matter the time or effort,
to the best of your ability, means LOYALTY

Giving more than you have and expecting absolutely nothing in return,
means SELFLESSNESS

Holding your head high, and being the best you know you can be
when life seems to fall apart at your feet, and facing each difficulty
with the confidence that time will bring you better tomorrows,
and never giving up, means CONFIDENCE
Posted by Monasku, 6:57 PM | 0 comments |

Bacalah Saat Kau Sakit Hati

Masih banyak yang belum kau lalui, jangan anggap pencarianmu telah selesai, apalagi menganggap bahwa apa yang kau temukan sekarang adalah kesempurnaan hidupmu. Biarkan saja hidupmu menggelinding seperti bola salju yang akan semakin membesar. Kau merasakan seperti sekarang ini hanya sebagai agar kau tak menyesal telah berpikir begitu sempit.

Dan sebuah kepingan kenangan masa lalu kelak akan menjadi keping-keping emas yang berharga. Sangat berharga sampai kau enggan menceritakannya kepada anak cucumu. “Terlalu berharga..” Alasanmu kepada mereka. Padahal kau terlalu takut jika nanti anak cucumu menyimpulkan bahwa leluhurnya dulu seorang pengecut yang posesif dan picik.

Jangan, jangan sesali warna hidupmu yang nanti pasti akan memudar, dan akan meninggalkan dua warna sejati. Sebuah warna yang sama sekali tidak mengenakkan dipandang sebagai keindahan. Tapi begitulah kebenaran, kebenaran sering berada pada nuansa yang membosankan. Kau bahkan akan lebih menyesal jika hidupmu lurus tanpa tantangan, tanpa penanda kepada generasi bahwa kau pernah ada. Terjalan batu-batu lah yang akan menentukan kualitasmu sebagai manusia. Sepi dan hambar adalah dua rasa yang sama-sama datang dari ketakutan atas fluktuasi. Dua rasa yang sama-sama menjadi obat yang kadaluwarsa.

Lantas kau menjejalkan pada dirimu tentang rupa-rupa sakit hati yang pernah kau alami, seperti ingin membuktikan bahwa hidupmu sudah cukup berwarna. Bahkan terlalu berwarna hingga seluruh hidupmu menjadi pekat, sebab warna yang menghiasi hidupmu sudah bercampur menjadi satu akibat larut oleh air matamu yang terlalu sering keluar.

Tak tahukah kau? Kau terlalu cengeng, menganggap kisah-kisah sedih yang kau alami harus ditangisi, hingga hidupmu tak lagi lembab, bahkan becek oleh air mata yang tak perlu. Sesekali kita memang perlu menangis, tapi bukan tangisan sepertimu yang aku maksud. Tangis itu tangis haru atas perjuangan hidupmu yang telah sampai saat itu. Tangis itu adalah tangis buat sekadar istirahat dan berhenti sejenak, merancang rencana dan menilai langkah-langkah masa lalu untuk kau jadikan bekal bagi hidupmu selanjutnya. Hidup tak selalu bergerak maju, terkadang kita juga perlu mundur beberapa langkah untuk sebuah loncatan besar.

Cinta? Kau masih tega bicara tentang cinta? Pada situasi seperti ini sangat memalukan bicara tentang cinta. Cinta akan datang sendiri tanpa dibicarakan, cinta akan datang pada saatnya nanti. Jika masih merasa sebagai bagian dari manusia, tengoklah saudara semanusiamu dulu, adakah yang tengah melambai-lambai dan menengadahkan tangan? Jangan pura-pura tidak tahu, kau cukup tahu untuk mengetahui keadaan mereka, kau manusia yang diberi Tuhan sebuah kecerdasan yang melebihi saudara-saudara yang lain.

Nyatakan cintamu pada manusia-manusia tidak dengan cara yang cengeng seperti sebelumnya, nyatakan dengan sikap terbaikmu. Bukan dengan bunga, sebaris puisi, atau berlembar-lembar mantra pengasihan. Dengan kecerdasanmu, tentu kau sudah tahu maksudku.

Boleh saja mereka mengatakan bahwa kata adalah senjata, tapi bicara saja tak akan cukup menolong. Memang, pada awalnya kata-kata cukup menghibur dan membius. Tapi akan sangat membosankan jika kata-kata yang sama terus menerus kau dengar, sama dan tanpa nyawa.

Kau! Menunggu tidak akan menghasilkan apa-apa…!!
Posted by Monasku, 6:55 PM | 0 comments |

About Guys...Before u regret

1) Guys may be flirting around all day, but before they go to sleep, they always think about the girl they truly care about....

2) Guys are more emotional then you think, if they loved you at one point, it'll take them a lot longer then you think to let you go, and it hurts every second that they try.

3) Guys go crazy over a girl's smile(:

4) A guy who likes you wants to be the only guy you talk to.

5) Giving a guy a hanging message like "You know what?..uh...nevermind.." would make him jump to a conclusion that is far from what you are thinking. And he'll assume he did something wrong and he'll obsess about it trying to figure it out.

6) If a guy tells you about his problems, he just needs someone to listen to him. You don't need to give advice.

7) A usual act that proves that the guy likes you is when he teases you

8) GUYS LOVE YOU MORE THEN YOU LOVE THEM!!!

9) Guys use words like hot or cute to describe girls. They rarely use beautiful or gorgeous. If a guy uses that, he loves you or likes you a whole heck of a lot.

10)If the guy does something stupid in front of the girl, he will think about it for the next couple days or until the next time he spends time with the girl.

11)If a guy looks unusually calm and laid back, he's probably faking it and he is really thinking about something

12) When a guy says he is going crazy about the girl, he really is. Guys rarely say that

13)When a guy asks you to leave him alone, he's just actually saying, "Please come and listen to me

14)If a guy starts to talk seriously, listen to him. It doesn't happen that often, so when it does, you know something's up.

15) When a guy looks at you for longer than a second, he's definitely thinking something.

16) Guys really think that girls are strange and have unpredictable decisions and are MAD confusing but somehow are drawn even more to them

17)A guy would give the world to be able to read a girl's mind for a day.

18)No guy can handle all his problems on his own. He's just too stubborn to admit it

19)NOT ALL GUYS ARE RUDE!!!
Just because ONE is RUDE doesnt mean he represents ALL of them

20)WHEN A GUY SACRIFICES HIS SLEEP AND HEALTH JUST TO TALK TO YOU, HE REALLY LIKES YOU AND WANTS TO BE WITH YOU AS MUCH AS POSSIBLE

21)Even if you dump a guy months ago and he loved you he probably still does and if he had one wish it would be you to come back into his life
Posted by Monasku, 6:48 PM | 0 comments |

Barang milikku yg paling berharga

Aku sangat menyukai ucapan mama : "Barang milikku yg paling berharga
adalah kamu!" ucapan yang sangat menyejukkan hati. Dan sampai sekarang aku
masih mengingatnya...

Papa Dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yg
dialami para muda-mudi dizaman itu, tapi hal ini sudah umum, tapi dizaman
sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan

masing-masing.Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dg papa Dan
tampak selalu mesra, akur bagaikan pasangan cinta sejoli. Sangat sulit
dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai! Yang nyaris
memisahkan mereka hanya karena emosi sesaat saja!

Papa Dan mama bekerja di perusahaan yg sama, oleh karena itu setiap
Hari berangkat Dan pulang bersama. Suatu Hari mereka kerja lembur,
mengadakan stock opname digudang, hingga pukul 02.00 dinihari Dan baru
pulang kerumah.

Papa sangat letih Dan lapar, sampai dirumah tidak Ada makanan maupun
minuman yg siap disaji. Papa yg lapar minta mama untuk menyiapkan makanan
Dan minuman.Beberapa Hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil,
ditambah lagi dng adanya lembur, badan Dan pikiran sungguh melelahkan,
sehigga dng kondisi yg labil itu, mama spontan menjawab dg nada keras, " mau

makan Dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan
Dan kaki lagi, ya?"

Karena papa juga terlalu capek Dan langsung menjawab dg acuh tak acuh,

" kamu ini isteriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu!"

Mama langsung merespon, "tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat

waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"

Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dg emosi,
"kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut,ya? Istri memasak

untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu? Kamu tidak
senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"

Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yg begitu keras,setelah
terdiam sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air Mata, "kamu
ingin aku pergi........aku akan pergi sekarang!" mama segera kembali kekamar

untuk mengemasi barang2nya.

Melihat mama masuk kamar Dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama
yg membelakanginya, "bagus! Pergi sana! Ambil semua barang2mu Dan jangan
kembali lagi!"

Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak Ada kata2
kebencian lagi yg muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak
kunjung keluar dari kamar, merasakan keanehan itu, papa kemudian menyusul
masuk kamar Dan melihat mama sedang duduk diranjang penuh dengan linangan
air Mata. Sambil menatap koper kulit besar yg masih tergeletak diatas
ranjang. Melihat papa datang, dng ter-isak2 mama berkata, "duduklah diatas
koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa2 perpisahan Kita yg

Terakhir."

Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk
tidak bertanya, " "untuk apa?"

Sambil menangis dng ter-putus2 mama berkata, "emas Dan perak aku tidak

memilikinya," tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu Dan
anak2ku, aku tidak memiliki apapun...."

Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih
mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata2
terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang, sejak malam itu, papa telah
diubah Dan telah menjadi sangat hormat Dan sayang kepada mama. Menggandeng
tangan anak2, merangkul mama serta senantiasa saling berpelukan kelak aku
juga bercita-cita ingin mendapatkan pasangan yg seperti papa.

Kehidupan apapun yg Kita jalani saat ini tidaklah penting yang
terpenting adalah bagaimana sikap Kita dalam menghadapi hidup ini terutama
disaat-saat badai itu muncul."


Author : Unknown
Posted by Monasku, Saturday, October 27, 2007 8:04 PM | 0 comments |
jika ia sebuah cinta.....
ia tidak mendengar...
namun senantiasa bergetar....

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak buta..
namun senantiasa melihat dan merasa..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak menyiksa..
namun senantiasa menguji..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak memaksa..
namun senantiasa berusaha..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak cantik..
namun senantiasa menarik..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak datang dengan kata-kata..
namun senantiasa menghampiri dengan
hati..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak terucap dengan kata..
namun senantiasa hadir dengan sinar
mata..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hanya berjanji..
namun senantiasa mencoba
memenangi..

jika ia sebuah cinta.....
ia mungkin tidak suci..
namun senantiasa tulus..

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir karena permintaan..
namun hadir karena ketentuan...

jika ia sebuah cinta.....
ia tidak hadir dengan kekayaan dan
kebendaan...
namun hadir karena pengorbanan dan
kesetiaan..


Author : Unknown
Posted by Monasku, 7:50 PM | 0 comments |

Cerita CINTA

Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.

Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!,” teriak CINTA “Aduh! Maaf, CINTA!,” kata kekayaan “Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!,” teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.

Tak lama lewatlah kecantikan “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,” teriak CINTA “Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,” sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan “Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,” kata CINTA. “Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.

Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara “CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!” CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. “Yang tadi adalah WAKTU,” kata penduduk itu “Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolong” tanya CINTA heran. “Sebab HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU”
Posted by Monasku, Saturday, May 19, 2007 5:27 PM | 0 comments |