Puisi sederhana Jomblo

Malamku sepi........
Bertaburan wangi bunga depan mata ..
Coba kusingkap panas dinding diri..
Akankah indraku sanggup cium pesona?

Mengapa kuterdiam......?
Ketika hati berbicara cinta..
Untuk apa cinta kubenam
Jika akhirnya rasa terlipat kurenda...

Ganja Kering,2 oktober 2008
Posted by Monasku, Wednesday, November 26, 2008 10:00 PM | 0 comments |

Saya Belajar

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk
membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja
untuk menghancurkannya...

Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali...

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik...

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh,
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan
perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya...

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya...dan untuk itu saya harus memaafkannya...

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri...
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus...

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya....

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah sahabat,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri...

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya...

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati...

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis...

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi
justru sering diambil segera dari kehidupan saya....


Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya|
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk
membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja
untuk menghancurkannya...

Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali...

Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik...

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh,
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.
Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan
perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya...

Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat itu,
mereka pasti pernah melukai perasaan saya...dan untuk itu saya harus memaafkannya...

Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri...
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus...

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya....

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah sahabat,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri...

Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya...

Saya belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati...

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis...

Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi
justru sering diambil segera dari kehidupan saya...
Posted by Monasku, 9:55 PM | 0 comments |

Cinta & Sayang

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

Saat kau menyukai seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku menciummu?"
Saat kau menyayangi seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku memelukmu?"
Saat kau mencintai seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya...

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata "Sudahlah, jgn menangis."
SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata, "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama."

SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,"Ia sangat cantik dan menawan."
SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.
CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,"Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.."

Pada saat orang yang kau suka menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
Pada saat orang yang kau sayang menyakitimu, engkau akan menangis untuknya.
Pada saat orang yang kau cintai menyakitimu, kau akan berkata,"Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan."

Pada saat kau suka padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.
Pada saat kau sayang padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.
Pada saat kau cinta padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus...

SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.
SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.

SUKA adalah hal yang menuntut.
SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
CINTA adalah hal yang memberi dengan rela
Posted by Monasku, Thursday, November 13, 2008 7:34 PM | 0 comments |

Cerita si tukang Cukur

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang," Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada,
tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!"-kata si konsumen menyetujui." Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu
banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!!
Posted by Monasku, 7:27 PM | 0 comments |

The Right One

My grandma and grandpa celebrated their fifty-fifth anniversary surrounded by their children, grandchildren and a lifetime collection of friends. I thought that Grandma had forgotten anything she may have known about being single. I was wrong.

As she was getting ready for the party, arranging her long white hair in a French twist, my grandma commented, "I'm always surprised when I look in the mirror and see all these wrinkles." Holding her hand over her heart, she added, "In here, I'm still a young woman." She applied bright red lipstick.

I sat on the bed watching her primp. "So, what is the secret of a long, happy marriage?"

She sprayed floral cologne on her wrists. "Don't settle."

I must have looked puzzled.

"Don't settle. That is all you need to know." She tucked a stray wisp of hair in place.

I twisted my own hair around my fingers hoping to coax it into a curl. Turning the page of Grandma's photo album, I saw an out-of-focus photo of nondescript steps. "Where's this?"

"That is where your grandpa proposed to me; we had known each other six weeks. When he first saw me, he told his cousin that he had seen the girl he was going to marry. That was before we had even spoken one word to each other."

"Six weeks?" My images of Edwardian modesty shattered. My grandma was born in 1890. Opposite the picture of the steps was a sepia studio portrait of a ringleted young woman with limpid eyes. That was Grandma, in the high-collared lace blouse, her mouth primly shut, her huge eyes staring off into the unknown future. "I thought people used to have long courtships."

"I had a long courtship, it just wasn't with your grandfather." She giggled. Grandma's eyes had not changed since that young girl held her rigid pose for the photographer.

My grandma was one of thirteen children. Her parents had a large house that Grandma described as a mansion. They were an unusual family for the turn of the century. One of Grandma's sisters was a bookkeeper. Her sister Ceil was an attorney; a plaque on a building in McKeesport, Pennsylvania, marks the site of her office.

Grandma always wanted to be a wife and mother. She was twenty-five when she married my grandfather.

"Grandma, I always thought things were different back then. I thought maybe Grandpa came over and sat around the den or parlor or whatever for years before he proposed."

Grandma smiled and moved closer, just like one of my friends settling in for a good gossip. "I kept company with another man for six years. He kept pushing me to marry him. I kept saying, 'I don't want to leave my mother,' or 'I'm not ready.' I said this, I said that. The truth was, there was no spark. He was nice but...he just wasn't the one."

I leaned forward. The years had fallen off Grandma's voice. Her speech sounded young, expectant.

"Everyone kept saying, 'Annie, so when are we dancing at your wedding?' People talked--people have always liked to talk. There was talk I'd end up an old maid. We took that kind of thing seriously. I didn't say anything. I kept going out with him, but something stopped me from getting engaged. He wasn't the one. My mother was worried about me. I wasn't worried. I knew that there was someone, somewhere. I wasn't ready to settle."

She squeezed my hand.

"So, then I met your grandfather. He saw me out walking with my friends and found--who knows how--that he knew my cousin. In a few days, he managed to come calling with my cousin. I never saw the other man again.

"Six weeks later your grandpa proposed." She started laughing until tears gathered in her eyes. "He said he needed a wife to manage his money. He didn't have two dimes to rub together."

"Did you know that before you married him?" I asked, thinking of the tales I had heard about her well-off parents.

"Of course I knew that. I also knew he was the one I had waited for," she said. She looked at our faces in the ornately framed mirror. In my face she saw the young woman she had been; in her face I saw my future. I kissed Grandma's cheek, knowing I would never settle. I would wait for the right one, and now I was certain I would know him when I saw him.
Posted by Monasku, 7:26 PM | 0 comments |

You Become What You Want to Be

Growing up the fifth of six children was a challenge, the struggle for placement and acceptance being the usual issues. Personally, I never felt I needed to be heard or seen. Taught to be seen and not heard from the time we were born, when we broke that rule we were punished severely.

I had several strikes against me growing up. I had very little self-esteem, if any. Our mother had a hair-trigger temper and we constantly had to avoid her wrath, learning to fear and not thrive as children. Even when we weren't in trouble, we felt like we had done something wrong. Talking about love or sex in our house was totally taboo. Our home lacked warmth and my fears of incurring my mother's anger outweighed my desire to talk to her about very important things that should have been dealt with as a child, not as an adult.

My childhood was short. I always say I graduated from the school of hard knocks, and meant it. I was molested between the ages of ten and thirteen by four different family friends and a family member. I was an alcoholic by the time I was fourteen and a frequent user of drugs when I wasn't drunk.

I was not popular in school, my grades were not great and the only thing I excelled at was spelling, which would not carry me far. My mom planted the seeds and watered them daily, telling me I wasn't smart enough or good enough to reach the goals I set for myself in life. I wanted to be a teacher, a stewardess or a nurse. At one time, I had many, many dreams. Not one of them was something my mother encouraged or thought I could accomplish.

I made mistakes, too many to mention and some so humiliating that I cringe inside today as I recall them. The drugs, the alcohol and the self-destructive path I was on were not things I was proud of. I wanted so desperately to change, but I had no idea how. I just wasn't good enough to succeed at anything. The only positive thing left was my desire to try.

I started dating a guy when I was thirteen, falling hopelessly in love with him. True to form, my mother told me I would never do better and on my sixteenth birthday we were engaged. We moved in together after high school and married at nineteen. We had two beautiful kids together, and that was the turning point in my life. Being a good mother was something I could accomplish.
Posted by Monasku, 7:24 PM | 0 comments |

Hidup Adalah Pilihan

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit
yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan akarku
dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya
tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam
musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun
pagi di pucuk-pucuk daunku."

Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.

Bibit yang kedua bergumam. "Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah
ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah disana
sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan
tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan
terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan
pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk
mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai
semuanya aman."

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.

Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
Posted by Monasku, 7:05 PM | 0 comments |

Life Is a Gift

Today before you say an unkind word - Think of someone who can't speak.

Before you complain about the taste of your food - Think of someone who has nothing to eat.

Before you complain about your husband or wife - Think of someone who's crying out to GOD for a companion.

Today before you complain about life - Think of someone who went too early to heaven.

Before you complain about your children - Think of someone who desires children but they're barren.

Before you argue about your dirty house someone didn't clean or sweep - Think of the people who are living in the streets.

Before whining about the distance you drive Think of someone who walks the same distance with their feet.

And when you are tired and complain about your job - Think of the unemployed, the disabled, and those who wish they had your job.

But before you think of pointing the finger or condemning another - Remember that not one of us is without sin.

And when depressing thoughts seem to get you down - Put a smile on your face and think: you're alive and still around.
Posted by Monasku, Wednesday, November 12, 2008 6:59 PM | 0 comments |

Six words of wisdom

Standing for what you believe in, regardless of the odds against you,
and the pressure that tears at your resistance, means COURAGE

Keeping a smile on your face, when inside you feel like dying,
for the sake of supporting others, means STRENGTH

Stopping at nothing, and doing what in your heart you know is right,
to make another's life a little more bearable, without uttering a single complaint,
means COMPASSION

Helping a friend in need, no matter the time or effort,
to the best of your ability, means LOYALTY

Giving more than you have and expecting absolutely nothing in return,
means SELFLESSNESS

Holding your head high, and being the best you know you can be
when life seems to fall apart at your feet, and facing each difficulty
with the confidence that time will bring you better tomorrows,
and never giving up, means CONFIDENCE
Posted by Monasku, 6:57 PM | 0 comments |

Bacalah Saat Kau Sakit Hati

Masih banyak yang belum kau lalui, jangan anggap pencarianmu telah selesai, apalagi menganggap bahwa apa yang kau temukan sekarang adalah kesempurnaan hidupmu. Biarkan saja hidupmu menggelinding seperti bola salju yang akan semakin membesar. Kau merasakan seperti sekarang ini hanya sebagai agar kau tak menyesal telah berpikir begitu sempit.

Dan sebuah kepingan kenangan masa lalu kelak akan menjadi keping-keping emas yang berharga. Sangat berharga sampai kau enggan menceritakannya kepada anak cucumu. “Terlalu berharga..” Alasanmu kepada mereka. Padahal kau terlalu takut jika nanti anak cucumu menyimpulkan bahwa leluhurnya dulu seorang pengecut yang posesif dan picik.

Jangan, jangan sesali warna hidupmu yang nanti pasti akan memudar, dan akan meninggalkan dua warna sejati. Sebuah warna yang sama sekali tidak mengenakkan dipandang sebagai keindahan. Tapi begitulah kebenaran, kebenaran sering berada pada nuansa yang membosankan. Kau bahkan akan lebih menyesal jika hidupmu lurus tanpa tantangan, tanpa penanda kepada generasi bahwa kau pernah ada. Terjalan batu-batu lah yang akan menentukan kualitasmu sebagai manusia. Sepi dan hambar adalah dua rasa yang sama-sama datang dari ketakutan atas fluktuasi. Dua rasa yang sama-sama menjadi obat yang kadaluwarsa.

Lantas kau menjejalkan pada dirimu tentang rupa-rupa sakit hati yang pernah kau alami, seperti ingin membuktikan bahwa hidupmu sudah cukup berwarna. Bahkan terlalu berwarna hingga seluruh hidupmu menjadi pekat, sebab warna yang menghiasi hidupmu sudah bercampur menjadi satu akibat larut oleh air matamu yang terlalu sering keluar.

Tak tahukah kau? Kau terlalu cengeng, menganggap kisah-kisah sedih yang kau alami harus ditangisi, hingga hidupmu tak lagi lembab, bahkan becek oleh air mata yang tak perlu. Sesekali kita memang perlu menangis, tapi bukan tangisan sepertimu yang aku maksud. Tangis itu tangis haru atas perjuangan hidupmu yang telah sampai saat itu. Tangis itu adalah tangis buat sekadar istirahat dan berhenti sejenak, merancang rencana dan menilai langkah-langkah masa lalu untuk kau jadikan bekal bagi hidupmu selanjutnya. Hidup tak selalu bergerak maju, terkadang kita juga perlu mundur beberapa langkah untuk sebuah loncatan besar.

Cinta? Kau masih tega bicara tentang cinta? Pada situasi seperti ini sangat memalukan bicara tentang cinta. Cinta akan datang sendiri tanpa dibicarakan, cinta akan datang pada saatnya nanti. Jika masih merasa sebagai bagian dari manusia, tengoklah saudara semanusiamu dulu, adakah yang tengah melambai-lambai dan menengadahkan tangan? Jangan pura-pura tidak tahu, kau cukup tahu untuk mengetahui keadaan mereka, kau manusia yang diberi Tuhan sebuah kecerdasan yang melebihi saudara-saudara yang lain.

Nyatakan cintamu pada manusia-manusia tidak dengan cara yang cengeng seperti sebelumnya, nyatakan dengan sikap terbaikmu. Bukan dengan bunga, sebaris puisi, atau berlembar-lembar mantra pengasihan. Dengan kecerdasanmu, tentu kau sudah tahu maksudku.

Boleh saja mereka mengatakan bahwa kata adalah senjata, tapi bicara saja tak akan cukup menolong. Memang, pada awalnya kata-kata cukup menghibur dan membius. Tapi akan sangat membosankan jika kata-kata yang sama terus menerus kau dengar, sama dan tanpa nyawa.

Kau! Menunggu tidak akan menghasilkan apa-apa…!!
Posted by Monasku, 6:55 PM | 0 comments |

About Guys...Before u regret

1) Guys may be flirting around all day, but before they go to sleep, they always think about the girl they truly care about....

2) Guys are more emotional then you think, if they loved you at one point, it'll take them a lot longer then you think to let you go, and it hurts every second that they try.

3) Guys go crazy over a girl's smile(:

4) A guy who likes you wants to be the only guy you talk to.

5) Giving a guy a hanging message like "You know what?..uh...nevermind.." would make him jump to a conclusion that is far from what you are thinking. And he'll assume he did something wrong and he'll obsess about it trying to figure it out.

6) If a guy tells you about his problems, he just needs someone to listen to him. You don't need to give advice.

7) A usual act that proves that the guy likes you is when he teases you

8) GUYS LOVE YOU MORE THEN YOU LOVE THEM!!!

9) Guys use words like hot or cute to describe girls. They rarely use beautiful or gorgeous. If a guy uses that, he loves you or likes you a whole heck of a lot.

10)If the guy does something stupid in front of the girl, he will think about it for the next couple days or until the next time he spends time with the girl.

11)If a guy looks unusually calm and laid back, he's probably faking it and he is really thinking about something

12) When a guy says he is going crazy about the girl, he really is. Guys rarely say that

13)When a guy asks you to leave him alone, he's just actually saying, "Please come and listen to me

14)If a guy starts to talk seriously, listen to him. It doesn't happen that often, so when it does, you know something's up.

15) When a guy looks at you for longer than a second, he's definitely thinking something.

16) Guys really think that girls are strange and have unpredictable decisions and are MAD confusing but somehow are drawn even more to them

17)A guy would give the world to be able to read a girl's mind for a day.

18)No guy can handle all his problems on his own. He's just too stubborn to admit it

19)NOT ALL GUYS ARE RUDE!!!
Just because ONE is RUDE doesnt mean he represents ALL of them

20)WHEN A GUY SACRIFICES HIS SLEEP AND HEALTH JUST TO TALK TO YOU, HE REALLY LIKES YOU AND WANTS TO BE WITH YOU AS MUCH AS POSSIBLE

21)Even if you dump a guy months ago and he loved you he probably still does and if he had one wish it would be you to come back into his life
Posted by Monasku, 6:48 PM | 0 comments |